Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kembali ke zaman purba

      Di zaman purba dulu, entah Megalitikum, Paleolitikum, Mesolitikum, atau apalah, manusia menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup. Bahkan membunuh. Obyek buruan yang tak se-melimpah di era modern, membuat mereka saling sikut, saling melukai, dan saling bunuh, untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, yang mereka butuhkan.
 
      Di era modern saat ini, manusia malah juga menghalalkan segala cara untuk meraih kebahagiaan hidup. Bahkan membunuh. Obyek buruan yang seolah telah disediakan oleh alam yang ramah, tak membuat mereka hidup damai. Malah saling sikut, saling melukai, saling bunuh, untuk memperoleh lebih dari apa yang seharusnya telah cukup untuk memenuhi apa yang mereka inginkan, yang mereka butuhkan.

      Di zaman purba dulu, manusia memakai apa yang disediakan alam untuk menutupi tubuhnya, sekadarnya. Bahkan telanjang bulat. Bahan alam yang tak se-melimpah di era modern, dan peralatan yang sangat primitif, membuat mereka harus beraktivitas dengan busana yang sangat sederhana, bahkan dalam ketelanjangan yang sesungguhnya.

       Di era modern saat ini, manusia malah berusaha sesedikit mungkin menutupi bagian tubuhnya. Bahkan mungkin ingin telanjang bulat. Bahan alam yang begitu mudah diperoleh dan disediakan oleh alam yang ramah, dan pabrik tekstil yang berdiri megah di setiap kota, tak membuat busana mereka menjadi beradab, bahkan malah berlomba memamerkan perhiasan tubuhnya.

 
      Di zaman purba dulu, manusia memuaskan birahi kepada siapa saja lawan jenis yang mereka temui. Bahkan berganti dan bertukar pasangan. Kapasitas otak dan daya pikir yang masih terbelakang, membuat mereka bertingkah layaknya hewan. Bercinta di mana saja, kapan saja, tanpa peduli orang lain.

      Di era modern saat ini, manusia malah juga memuaskan birahi kepada siapa saja yang mereka temui, yang bersedia. bahkan berganti dan bertukar pasangan, atau malah dengan sesama jenis. Kapasitas otak dan daya pikir yang jauh lebih jenius, tak membuat mereka menjadi bermoral. Bahkan bercinta di mana saja, kapan saja, dianggap sebagai gaya hidup masa kini.

      Di zaman purba dulu, Kota Bandung adalah sebuah danau raksasa yang membentang luas dari wilayah Jl. Siliwangi hingga Soreang saat ini, dari Parakan Muncang hingga Padalarang saat ini, dengan titik terdalam hingga tigapuluh meter. Tak ada yang bisa ditinggali manusia saat itu, kecuali di barisan pegunungan yang mengepung cekungan bandung saat itu.

      Di era modern saat ini, Kota Bandung adalah sebuah dataran tinggi yang menjadi mangkuk raksasa tempat aktivitas hidup manusia. Manusia bisa berdiri dan hidup normal di wilayah yang dulu tak bisa ditinggali, malah kemudian merusaknya dengan berbagai polah, mengotori alam, membuat Kota Bandung menjadi tak nyaman karena setiap turun hujan menjadi digenangi air setinggi pinggang manusia. Kota Bandung mulai kembali menjadi danau aksidental.

      Di zaman purba dulu, manusia akhirnya tak mampu bertahan hidup dan melawan kehendak alam yang terus berubah seperti bumi saat ini, dan kelak tak henti ber-evolusi hingga hari kiamat tiba.

      Di era modern saat ini, manusia mampu bertahan atas kehendak alam yang bersahabat, namun mereka merusaknya dengan sesuka hati, bertindak sesuka hati, membuat bumi murka dan manusia tak mampu melawannya, hingga kembali (seperti) ke zaman purba...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar